Category: Budaya & Wisata

  • Wakil Menteri Pariwisata RI Tinjau Potensi Wisata Jayawijaya, Dorong FBLB Masuk Magnet Wisata Dunia

    Wakil Menteri Pariwisata RI Tinjau Potensi Wisata Jayawijaya, Dorong FBLB Masuk Magnet Wisata Dunia

    Wamena – Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, melakukan kunjungan kerja perdana ke Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (6/8/2026), menjelang pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) Ke-34.

    Dalam kunjungannya, Ni Luh Puspa didampingi Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP,M.KP dan Ketua Deskranasda Jagawijaya dr. Idawati, S.p,KJ mengunjungi sejumlah destinasi wisata unggulan, di antaranya Desa Wisata Kumugima, Mumi Aikima, serta menghadiri Wamena Coffee Festival dan UMKM di depan Kantor Bupati Jayawijaya.Rencananya, pada hari berikutnya Wakil Menteri akan menyaksikan langsung Festival Budaya Lembah Baliem di Distrik Walesi.

    Wamen Pariwisata Ni Luh Puspa mengaku terkesan dengan kekayaan budaya dan potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Jayawijaya. Menurutnya, kunjungan ini menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Wamena.

    Wakil Mentri Pariwisata Nih Luh Puspa saat mengunjungi UMKM yang ada didepan Kantor Bupati Jayawijaya

    Foto : Pers FBLB 2026

    “Saya senang sekali, ini pertama kalinya saya datang ke Wamena. Tadi kami melihat Desa Wisata Kumugima, kemudian Mumi Aikima, sekarang berada di Wamena Coffee Festival dan Besok saya akan melihat langsung Festival Budaya Lembah Baliem,” ujarnya.

    Ia juga mengungkapkan telah bertemu dengan wisatawan asal Italia yang mengaku sangat menikmati kunjungannya ke Wamena setelah sebelumnya berwisata ke Raja Ampat. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Jayawijaya memiliki daya tarik yang mampu melengkapi destinasi wisata unggulan Indonesia.

    Menurutnya, potensi wisata di Jayawijaya sangat besar, terutama kekayaan adat dan budaya yang masih terjaga serta potensi agrowisata seperti kopi dan perkebunan nanas di Desa Wisata Kumugima.

    “Saya melihat ada banyak pekerjaan yang bisa kita kerjakan bersama Pemerintah Daerah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan maupun lama tinggal wisatawan di Wamena. Dengan semakin banyak daya tarik wisata yang dikembangkan, tentu akan memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik dari sektor pariwisata maupun agrowisata,” katanya.

    Wakil Mentri Pariwisata Nih Luh Puspa bersama Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP dan Ketua Dekranasda Jayawijaya dr. Idawati Waromi Murip, Sp.KJ dan Ketua GOW Kabupaten Jayawijaya Ny. Cepelina Tabuni Elopere, S.IP.

    Foto : Pers FBLB 2026

    Ni Luh Puspa menegaskan bahwa Kementerian Pariwisata akan terus mendorong pengembangan destinasi berbasis budaya lokal agar tetap menjadi identitas utama daerah sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

    Ia juga mengajak masyarakat Indonesia dan wisatawan untuk datang menyaksikan Festival Budaya Lembah Baliem, yang tahun ini kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN).

    “Festival Budaya Lembah Baliem sudah diselenggarakan sebanyak 34 kali dan selalu menjadi daya tarik utama wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk datang dan mendukung festival-festival daerah seperti ini agar masyarakat semakin semangat melestarikan adat dan budaya yang dimiliki,” ujarnya.

    Ia berharap kualitas penyelenggaraan Festival Budaya Lembah Baliem terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara serta memperkuat posisi Jayawijaya sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Indonesia.

    Kunjungan Wakil Menteri Pariwisata ini menjadi bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor pariwisata di Papua Pegunungan, khususnya Kabupaten Jayawijaya, yang memiliki kekayaan budaya, alam, dan agrowisata sebagai modal utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata. (Agris)

  • WAMENPAR dan WAMENDAGRI Dipastikan Akan Hadiri FBLB

    WAMENPAR dan WAMENDAGRI Dipastikan Akan Hadiri FBLB

    WAMENA – Wakil Menteri Pariwisata dan Wakil Menteri Dalam Negeri RI, dipastikan akan menghadiri pagelaran seni dan budaya tahunan di Lembah Baliem – Papua Pegunungan, yakni Festival Budaya Lembah Baliem Ke-34.

    Informasi ini bocorkan langsung, Naftali Rumbiak selaku Wakil Ketua Pelaksana FBLB Ke-34 Tahun 2026.

    “Tamu dari pemerintah pusat yang sudah pasti yaitu, wakil menteri pariwisata dan wakil menteri dalam negeri. Dua tamu ini sudah pasti akan hadir,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

    Penampilan tari-tarian pasa Festival Budaya Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan

    Foto : Istimewa

    Meski demikian, tidak menutup kemungkinan even ini juga akan dihadiri menteri kebudayaan, yang rencananya akan mengunjungi Jayapura diwaktu yang hampir bersamaan.

    “Kami masih menunggu kepastian lain juga, karena rencana menteri kebudayaan akan mengunjungi Jayapura untuk penyerahan benda-benda arkeolog Papua kembali ke MUSEUM UNCEN. Dari sana rencananya beliau mungkin akan ke Wamena untuk menyaksikan pembukaan FBLB. Itu infonya, tapi kami belum tau pasti,” terangnya.

    Festival budaya tertua di Papua ini akan digelar selama dua hari, yakni mulai tanggal 7 hingga 8 Agustus di Distrik Welesi. Selain festival budaya, selama tanggal 7 hingga 9 Agustus juga akan digelar Wamena Kopi Festival, yang akan berlangsung mulai sore hingga malam hari, di Tugu Salib. Dilanjutkan pada tanggal 10 Agustus nanti rangkaian even ini akan ditutup dengan Carnaval Budaya Nusantara yang starnya dari halaman kantor Bupati Jayawijaya.

    Naftali Rumbiak memastikan festival tahun ini beda dari tahun sebelumnya, dimana tidak lagi menampilkan tradisi perang-perangan, tetapi menampilkan cerita tradisi kehidupan masyarakat adat Lembah Baliem dalam bentuk tampilan drama (Sosiodrama).

    “Perbedaan FBLB tahun ini dan tahun lalu yakni, kalau tahun lalu lebih menonjolkan atraksi perang-perangan, tapi kalau tahun ini kita rubah Sosiodrama. Ada juga Tari-tarian, Sikoko Puradan, Karapan Babi, dan Tiup Pikon. Sebenarnya sama, hanya beda di atraksi perang-perangan yang tidak kita tampilkan,” tututrnya.

    Dijelaskannya, tahun ini hanya enam sanggar yang tampil di FBLB dan akan menampilkan drama yang berbeda-beda di hari pertama dan hari kedua.

    Selain penampilan sosiodrama tentang cerita-cerita rakyat, atau kehidupan masyarakat. Lomba Karapan Babi juga masih akan ditampilkan dengan total hadiah yang akan dibawa pulang partisipan selama dua hari senilai i Rp 20 Juta. Sementara untuk Lomba Mniup Pikon dibuka untuk umum dengan total hadiah selama dua hari senilai Rp 5 Juta.

    Naftali Rumbiak selaku Wakil Ketua Pelaksana FBLB Ke-34 Tahun 2026.

    Foto : Vina Rumbewas

    “Sosiodrama yang akan ditampilkan salah satu grup yaitu, prosesi pernikahan di Lembah Baliem itu salah satu sonopsi yang disiapkan. Jadi saya mau bilang ‘ kalau kau tidak datang kau tidak akan tahu apa-apa’ tapi kalau datang kau akan dapat ceritanya, ternyata kita punya tradisi dulu seperti ini. Karena dulu kita punya pernikahan itu sacral, ada proses-prosesnya,” tutupnya. (Vina Rumbewas/Martina Matuan)

  • Pemda Jayawijaya Libatkan 50 Orang Panitia Lokal Untuk Persiapkan Lokasi FBLB di Welesi

    Pemda Jayawijaya Libatkan 50 Orang Panitia Lokal Untuk Persiapkan Lokasi FBLB di Welesi

    WAMENA – Seminggu jelang pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) Ke-34, panitia pelaksana dalam hal ini pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus memantapkan kesiapan, baik sarana prasarana di lokasi festival maupun rangkaian acara yang nantinya akan ditampilkan.

    Mewakili Kepala  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Naftali Rumbiak, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi dan Pemasaran Pariwisata mengungkapkan bahwa sejauh ini persiapan telah mencapai 60 persen.

    “Persiapan FBLB sudah enam puluh persen, baik secara administrasi, kesiapan fisik di lokasi dan kesiapan panitia. Paling tiga atau empat hari lagi sudah selesai,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

    H-7 FBLB Ke-34, panitia terus melakukan pembersihan arena  dan perbaikan beberapa fasilitas di lokasi FBLB di Distrik Welesi Kab. Jayawijaya. Jumat (31/7/2026)

    Foto : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Jayawijaya

    Saat ini panitia tengah melakukan pembersihan arena serta melakukan perbaikan beberapa bagian bangunan seperti tribun VIP dan tribun penonton, lapak UMKM, perbaikan toilet, dan persiapan pembangunan panggung di area festival yang berlokasi di Distrik Welesi.

    Dalam melakukan pembersihan dan renovasi di lokasi festival, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya melibatkan sebanyak 50 orang panitia lokal yang berasal dari distrik Welesi. Para pemuda ini diberi tanggungjawab untuk terlibat langsung dalam mempersiapkan even nasional ini.

    “Kemarin baru mulai perbaikan dan pemasangan atap, tinggal pengecatan. Jadi perhitungan kami H-2 kegiatan sudah beres,” katanya.

    Sementara untuk pemasangan panggung akan mulai dikerjakan pada tanggal 1 Agustus, begitu juga penyambungan jaringan listrik di area festival.

    Dirinya optimis seluruh pekerjaan akan rampung dalam waktu dekat, karena telah dilakukan pembagian tugas setiap seksi dalam kepanitiaan.

    “Untuk kegiatan FBLB persiapan-persiapan sedang berjalan. Kami juga sudah rapatkan dengan seksi acara  untuk mengkoordinasikan acara karena ada dua lokasi kegiatan,”. (Vina Rumbewas/Martina Matuan)

  • Persiapan FBLB 34 Tahun 2026 DISBUDPAR Jayawijaya Pastikan Sudah Mencapai 70 Persen

    Persiapan FBLB 34 Tahun 2026 DISBUDPAR Jayawijaya Pastikan Sudah Mencapai 70 Persen

    WAMENA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Kabupaten Jayawijaya memastikan H-10 menjelang pelaksanaan iven tahunan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke 34 tahun 2026, panitia akan fokus untuk melakukan perbaikan- perbaikan di di sejumlah fasilitas pendukung seperti tribun, toilet, honai, menara pantau dan fasiltas pendukung lainnya yang ada di lokasi perang-perangan.

    Kepala DISBUDPAR Kabupaten Jayawijaya Engelbert Serabut, S.Sos menyebutkan jika persiapan untuk FBLB yang menjadi iven tahunan yang masuk dalam 10 besar Kharisma event Nasional (KEN), pada prinsipnya persiapan yang dilakukan sudah mencapai 70 persen, tinggal dilakukan pembenahan di lokasi hingga mencapai 100 persen.

    “Untuk persiapan dilapangan dijadwalkan dalam minggu ini pembenahan yang dilakukan semuanya dapat diselesaikan, mulai perbaikan atap tribun, perbaikan toilet, pembuatan honai, menara pantau dan beberapa fasilitas pendukung lainnya,”ungkapnya Rabu (29/7/2026) di Wamena.

    Tribun utama lokasi pelaksaan FBLB ke 34 Tahun 2026 Distrik Welesi yang saat ini masih dalam perbaikan.

    Foto : Denny Tounjaw

    Menurutnya, panitia lokal juga akan melakukan pembersihan terhadap lokasi penyelenggaraan festival, serta pembersihan jalan dan juga lokasi yang dipersiapkan untuk melakukan pameran UMKM, sehingga pada saat pelaksanaan semua itu tak perlu lagi dipersiapkan dan bisa langsung melihat beberapa atraksi pertunjukan yang telah dipersiapkan.

    “Dalam Minggu ini kita coba untuk selesaikan semua pembenahan-pembenahan dari fasilitas yang yang ada di lokasi tersebut sehingga pelaksanaan FBLB ke 34 ini tidak menemui kendala lagi,” jelas Engelbert.

    Kata Kadis BUDPAR Jayawijaya, Pelaksanaan FBLB tahun 2026 ini tinggal menghitung hari, sehingga panitia sedang berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan kerusakan -kerusakan fasilitas pendukung yang ada di wilayah distrik welesi, sehingga pada saat pelaksanaan para wisatawan yang datang sudah bisa menggunakan fasilitas tersebut.

    Pembangunan Honai adat Suku Hubula yang nantinya akan ditampilkan dalam pelaksaan FBLB ke 34 Tahun 2026.

    Foto : Denny Tounjaw

    “Memang kita harus segera selesaikan fasilitas pendukung tersebut, dalam pembelian tikat yang dilakukan secara online semua fasilitas yang digunakan sudah terinclude  didalamnya termasuk toilet dan parkiran,”kata Sorabut

    Di sisi lain untuk pelaku usaha baik itu dari UMKM, dan usaha -usaha lainnya itu sudah mendaftar kepada panitia, oleh karena itu, perlu ada tempat yang dipersiapkan untuk mereka bisa menjajakan prodaknya baik itu kerajinan tangan, kopi, bahkan juga kuliner guna menambah daya tarik dari pelaksanaan iven tahunan di Kabupaten Jayawijaya.

    Kepala DISBUDPAR Kabupaten Jayawijaya Engelbert Serabu,  S.Sos

    Foto : Denny Tounjaw

    “Seperti biasa kami tetap akan mempersiapkan tempat untuk para pelaku usaha yang ada di wilayah ini, tak hanya di Welesi saja, namun juga disiapkan halaman kantor Bupati Jayawijaya sebagai rangkaian dari pelaksanaan FBLB,” tutup Kadisbudpar Jayawijaya. (Denny Tounjaw /Martina Matuan)

  • Seminggu Jelang Even, Panitia FBLB Ke-34 Terus Permantap Persiapan

    Seminggu Jelang Even, Panitia FBLB Ke-34 Terus Permantap Persiapan

    WAMENA – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus memantapkan persiapan pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem Ke-34 Tahun 2026. Pengecekan dilakukan dengan menggelar rapat koordinasi untuk mengecak kesiapan masing-masing bidang yang tergabung dalam kepanitiaan.

    Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Naftali Rumbiak, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi dan Pemasaran Pariwisata mengungkapkan bahwa rapat ini untuk mengumpulkan dan mengkoordinir tugas dan tanggungjawab masing-masing seksi dalam kepanitiaan.

    “Selama ini mungkin ada anggapan bahwa ini cuma diatur oleh satu dua orang, tapi dengan bergabungnya panitia kita berharap semua menjalankan perannya,” ungkap Naftali, Kamis (23/7/2026).

    Rapat persiapan pelaksanaan FBLB Ke-34 yang berlangsung di Kantor Bupati Jayawijaya.

    Foto : Vina Rumbewas

    Kata Naftali, jelang pelaksanaan even yang tinggal seminggu ini panitia terus bersiap dengan mempersiapkan lokasi karena ada beberapa bagian atau tempat (tribun) yang perlu direnovasi.

    “Panitia lokal 50 orang yang kami libatkan, untuk nanti pekerjaan di lapangan juga itu mereka atur, mungkin perbaiki toilet dan perbaikan sanitasi, pembuatan penandah, gapura, itu semua biasanya kita percayakan ke mereka untuk kerjakan itu,” jelasnya.

    Sementara untuk UMKM-UMKM yang akan terlibat dalam even FBLB ini juga telah diarahkan oleh para panitia, mengingat terdapat dua lokasi berbeda sehingga perlu ditata. Dua lokasi yang dimaksud yakni lokasi stand UMKM di  Welesi dan di pusat kota Wamena.

    “Kalau di kota itu kan harus ada denahnya, karena UMKM yang mendaftar macam-macam, ada kuliner, ada kopi, dari kopi juga ini kan nanti terbagi-bagi. Ada yang menjual macam biji kopi, green bean atau yang sudah disangrai, terus ada yang penyajian,” tuturnya.

    Sehingga tambah Naftali hal ini perlu diatur dengan baik.

    Sekedar diketahuai, selain penampilan berbagai kesenian pada even festival yang akan berlangsung di Distrik Welesi, dalam rangakaian even FBLB ini juga akan digelar Wamena Kopi Festival yang akan digelar mulai tanggal 7-10 Agustus di area Taman Wio Silimo atau Tugus Salib.

    “Kendala di lapangan pasti akan terjadi, dimana UMKM yang tidak mendaftar juga akan ada. Siapa saja boleh ikut ini kan ajang untuk memang peredaran uang harus ada. Sehingga mari berkontribusi dengan wajib pajak,” ujarnya.

    Naftali juga mengingatkan UMKM untuk tidak berjualan di dalam lokasi atraksi, tetapi tetap berjualan di area yang telah disiapkan panitia.

    “Mudah-mudahan besok diatur, kalau konsepnya berjalan baik kita akan lihat apakah efisien atau tidak, nanti tahun depan akan dievaluasi,” tutupnya. (Vina Rumbewas/Martina Matuan)

  • Wabup Jayawijaya Ajak ASN dan Masyarakat Sukseskan FBLB Ke-34

    Wabup Jayawijaya Ajak ASN dan Masyarakat Sukseskan FBLB Ke-34

    WAMENA – Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk ikut menyukseskan Festival Budaya Lembah Baliem Ke-34 yang akan digelar di Distrik Welesi pada tanggal 7-10 Agustus mendatang, yang dilanjutkan dengan Wamena Coffee Festival.

    Ronny Elopere memastikan pemerintah daerah siap menjamin keamanan setiap wisawatan selama berlangsungnya even nasional itu.

    Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere

    Foto : Vina Rumbewas

    Pementasan tari-tarian saat pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem di Jayawijaya

    Foto : Vina rumbewas

    “Kami pemda tetap akan menjamin, apapun upaya akan kami lakukan agar festival bisa tetap berjalan karena itu program pemerintah. Sehingga kita berharap akan berjalan aman,” ungkap Wabup Jayawijaya, Rabu (22/7/2026).

    Lanjutnya, guna menyukseskan even ini tentu pemda akan berkoordinasi dengan semua pihak terutama pihak keamanan agar even tahunan ini dapat berjalan baik.

    “Saya berharap kepada semua ASN dan masyarakat umum bahkan wisatawan yang mau datang, kami pemda siap untuk memfasilitasi keamanan. Ini agenda tahunan yang selalu kita laksanakan dan kami pemda wajib amankan situasi,” pungkasnya. (Vina/Martina)

  • Atraksi Perang -Perangan Dalam FBLB Tak Berdiri Sendiri Namun Dimasukan Dalam Sosial Drama

    Atraksi Perang -Perangan Dalam FBLB Tak Berdiri Sendiri Namun Dimasukan Dalam Sosial Drama

    WAMENA – Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Jayawijaya memastikan jika ketidak adaan atraksi perang -perangan dalam FBLB ke 34 Tahun ini bukan untuk sama sekali dihilangkan, namun atraksi tersebut tetap akan masuk dalam sosial drama, sehingga atraksi tersebut bisa saja masuk dalam cerita yang ditampilkan.

    Kabid Destinasi dan Pariwisata Disbudpar Jayawijaya Naftali Rumbiak, S.Sos, M.Si menyatakan kalau pelaksanaan FBLB ke 33 tahun 2025 atraksi perang -perangan itu konsepnya langsung melakukan saling serang, contoh ada yang kerja di kebun ada kelompok yang sudah stanbay untuk langsung melakukan perang.

    “Kalau tahun ini, perang -perangan itu masuk dalam sosial drama, sehingga konflik ini bisa saja terjadi dalam alur cerita yang menjadi pertunjukan, namun kita memang sengaja tak terlalu memunculkan nilai perangnya tapi sosial dramanya,”ungkapnya Selasa (14/7/2026) 

    Atraksi perang-perangan dalam FBLB ke 33 tahun 2025 yang selama ini berdiri sendiri, kini diubah dan dimasukan dalam Sosial Drama dalam pelaksanaan FBLB ke 34 tahun 2026.

    Foto: Istimewa

    Menurutnya, kalau dalam cerita yang ditampilkan itu ada perangnya maka tentunya atraksi itu akan masuk dalam cerita, sehingga untuk atraksi perang -perangan ini tidak tak dihilangkan sepenuhnya tetapi tidak terlalu mendalam untuk dipertontonkan seperti atraksi perang -perangan yang biasanya berdiri sendiri.

    “Jadi untuk tahun ini atraksi perang -perangan tak berdiri sendiri seperti tahun lalu, namun tetap ada dalam cerita-cerita budaya yang akan ditampilkan namun tidak secara utuh,”jelas Naftali

    Kata Naftali Rumbiak, Iven FBLB juga masuk dalam 10 Kharisma Iven Nusantara (KEN), sehingga ada kurasi yang merupakan hasil evaluasi dari tim kementrian untuk iven ditahun sebelumnya kemudian diberikan saran dan masukan kepada Pemerintah daerah untuk bisa melakukan perbaikan agar pelaksanaan iven di tahun selanjutnya lebih menarik.

    “Jadi ada masukan atau kurasi dari kementrian Kebudayaan, kalau boleh ada semacam fariasi yang lain, contoh selema mereka datang untuk menyaksikan FBLB ditahun -tahun sebelumnya yang diceritakan hanya perang saja, meskipun ada perbedaan alur cerita sedikit tapi hanya itu saja yang menonjol,”katanya

    Dalam penilaian kurasinya, diberi masukan untuk dimasukan cerita lainnya yang ditonjolkan walaupun nanti ada perang-perangan, oleh karena itu, Disbudpar mencoba untuk pelaksanaan Iven Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke 34 tahun 2026 ini ada yang berbeda.

    “Kurasi dari KEN ini yang coba kita masukan dalam pelaksanaan FBLB tahun ini, sehingga bukan cerita perang -perangan yang akan kita tonjolkan tetapi cerita dibalik itu,”beber Naftali.

    Kabid Destinasi dan Pariwisata Disbudpar Jayawijaya Naftali Rumbiak, S.Sos, M.Si.

    Foto : Denny

    Ia juga menyatakan untuk alasan mengurangi atraksi perang -perangan, dalam situasi yang saat ini terjadi Disbudpar ingin sedikit merubah pola pikir, karena sampai saat ini juga masih ada kondiri seperti ini yang dirasakan dalam masyarakat sehingga jangan sampai berpikir harus begini dan begitu, sehingga untuk iven tahun ini.

    “Walaupun atraksi perang -perangan ini sudah seperti menjadi identik, namun kita bisa menyampaikan dengan cara -cara yang berbeda sebab hal seperti ini juga memicu ingatan peristiwa masa lalu khususnya untuk perang,”beber Nartali

    Ia juga menambahkan jika untuk iven tahun ini Disbudpar mencoba untuk memperlihatkan budaya yang terkikis, contoh seperti budaya potong jari tangan karena rasa duka atau kesedihan, namun kalau diperlihatkan dalam bentuk sosial drama mungkin karena perang hingga jatuh korban jiwa, hingga memicu rasa duka yang mendalam sampai dengan melakukan ritual potong jari untuk seorang wanita, disisi lain juga bisa memperlihatkan bagaimana ekspresi duka yang dirasakan dan apa yang harus dilakukan.

    “Contoh seorang wanita kalau Suami atau anaknya meninggal dunia maka wanita tersebut harus melumuri seluruh tubuhnya dengan tanah liat, lalu selama sebulan harus ada dalam honai, cerita seperti ini tak pernah dimunculkan lagi dalam masyarakat sebagai identitas budaya yang sesungguhnya,” tutup Naftali.(Denny/Martina)

  • Disbudpar Jayawijaya Tegaskan Festival Budaya Lembah Baliem Digelar Secara Rolling Demi Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi

    Disbudpar Jayawijaya Tegaskan Festival Budaya Lembah Baliem Digelar Secara Rolling Demi Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi

    WAMENA – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jayawijaya , Engelbert Surabut, SE., M.Si, menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem setiap tahun dilakukan dengan sistem rolling atau bergilir dari satu Distrik ke Distrik lainnya. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh distrik di Kabupaten Jayawijaya.

    Menurut Engelbert, konsep tersebut bukanlah kebijakan baru. Sejak pertama kali digagas pada awal tahun 1990-an oleh almarhum Pak Wenas, Festival Budaya Lembah Baliem memang dirancang sebagai daya tarik wisata yang mampu memberikan dampak ekonomi secara luas kepada masyarakat.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jayawijaya , Engelbert Surabut, SE., M.Si

    Foto : Kominfo Jayawijaya

    “Sebenarnya festival ini sejak awal tahun 90-an diperakarsai oleh Pak Wenas. Tujuan utamanya adalah menjadikan festival sebagai daya tarik wisata sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jayawijaya,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat 10 Juli 2026.

    Ia menjelaskan, sejak awal penyelenggaraannya festival telah dilaksanakan secara bergilir di berbagai distrik, di antaranya Piramid, Asotipo, Kurima, Walesi, Libarek, hingga beberapa lokasi lainnya. Sistem tersebut diterapkan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan festival dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai wilayah.

    Engelbert mencontohkan pelaksanaan festival di kawasan Wosi yang melibatkan sedikitnya enam distrik di sekitarnya. Keterlibatan berbagai distrik tersebut memberikan dampak terhadap meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari sektor perdagangan, transportasi, jasa, hingga pelaku usaha mikro.

    “Tahun ini pun konsep yang sama tetap diterapkan. Jadi bukan dipindahkan, tetapi rolling. Tujuannya agar asas pemerataan dapat terwujud sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi menyebar ke berbagai distrik di Kabupaten Jayawijaya,” tegasnya.

    Ia berharap masyarakat maupun media dapat memahami bahwa perubahan lokasi penyelenggaraan festival bukan karena pemindahan permanen, melainkan bagian dari strategi pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada setiap wilayah merasakan manfaat ekonomi dari event budaya berskala nasional tersebut.

    Menanggapi pertanyaan mengenai berkurangnya jumlah peserta pada penyelenggaraan tahun ini, Engelbert mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

    “Memang anggaran tahun ini sangat terbatas akibat efisiensi anggaran, sehingga jumlah peserta harus disesuaikan,” jelasnya.

    Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya tetap berkomitmen menyelenggarakan Festival Budaya Lembah Baliem karena kegiatan tersebut telah masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) sehingga tetap menjadi agenda penting dalam promosi pariwisata daerah.

    Sementara terkait lokasi penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya, Engelbert mengatakan pemerintah akan terlebih dahulu melakukan evaluasi setelah pelaksanaan festival tahun ini selesai sebelum menentukan lokasi berikutnya.

    “Setelah evaluasi tahun ini selesai, baru akan dibahas lokasi penyelenggaraan berikutnya. Prinsipnya tetap mengedepankan pemerataan manfaat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh distrik,” pungkasnya. (Agris/Martina)

     

  • Suku Walak Luncurkan Noken Pelangi di Kampung Manda, Bupati Jayawijaya Siap Tetapkan Jadi Identitas Resmi

    Suku Walak Luncurkan Noken Pelangi di Kampung Manda, Bupati Jayawijaya Siap Tetapkan Jadi Identitas Resmi

    Wamena – Suku Walak secara resmi meluncurkan Noken Pelangi dalam sebuah acara budaya yang berlangsung pada 24 Januari di Kampung Manda, Distrik Bugi, Kabupaten Jayawijaya. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Jayawijaya bersama pejabat daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat dan warga setempat.

    Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, S.H.,M.H berfoto bersama mama-mama pengrajin noken pelangi suku Walak saat peluncuran Noken Pelangi di kampung Manda, Distrik Bugi, Jumat(24/1)

    Foto : Fransiska Endama

    Peluncuran Noken Pelangi menjadi momentum penting dalam penguatan identitas budaya masyarakat Walak. Noken dengan warna pelangi tersebut melambangkan persatuan, harapan, dan jati diri orang Walak di Kabupaten Jayawijaya.

    Dalam sambutannya, Bupati Jayawijaya menyampaikan makna pelangi sebagai tanda berkat Tuhan bagi suatu daerah.

    “Kota yang diberkati Tuhan, tanda akhirnya itu muncul pelangi. Karena itu Noken Pelangi ini punya arti besar, bukan hanya kerajinan, tetapi simbol berkat dan persatuan,” ujar Bupati.

    Ia juga menilai Suku Walak layak menjadi contoh bagi masyarakat Jayawijaya.

    “Suku Walak bisa menjadi contoh bagi Jayawijaya karena cara hidup mereka yang baik, saya tidak pernah dengar suku walak bikin onar, mabuk dan bikin kacau ” tambahnya.

    Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) agar Noken Pelangi ditetapkan sebagai identitas resmi orang Walak.

    “Noken pelangi ini akan kita buatkan Perda, sehingga menjadi identitas orang Walak dan dilindungi secara hukum,” katanya.

    Pada kesempatan tersebut, Bupati Jayawijaya juga meresmikan Sekretariat Noken Pelangi Suku Walak yang ditandai dengan penguntingan pita.

    Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, S.H.,M.H  melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian Sekretariat Noken Pelangi Suku Walak di Kampung Manda, Distrik Bugi, Jumat(241).

    Foto : Fransiska Endama

    Selain peluncuran, acara ini dirangkaikan dengan pameran produk masyarakat Walak, mulai dari noken pelangi, sepatu rajut pelangi, baju rajut, hingga kopi asli Walak. Produk-produk tersebut menjadi bukti kreativitas masyarakat dalam mengembangkan ekonomi berbasis budaya. Harga noken pelangi dipasarkan dengan kisaran Rp300 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan motif.

    Sementara itu, Ketua Noken Pelangi, Ibu Gemina Kenelak, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Bupati Jayawijaya ke Kampung Manda.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Bupati. Kunjungan ini menjadi motivasi besar bagi kami mama-mama pengrajin Noken Pelangi,” ujar Gemina.

    Ia juga berharap adanya dukungan pemerintah untuk pengembangan produksi.

    “Kami juga berharap pemerintah bisa membantu kami dengan mesin jahit, supaya hasil rajutan dan produk kami bisa lebih banyak dan berkualitas,” tambahnya.

    Gemina menegaskan, Noken Pelangi bukan hanya simbol budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi mama-mama Walak.

    Peluncuran Noken Pelangi di Kampung Manda ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan budaya lokal sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Suku Walak melalui ekonomi kreatif. (FE/MM)

  • Bupati Jayawijaya buka Grand Final Pemilihan Putra Putri Pariwisata 2025

    Bupati Jayawijaya buka Grand Final Pemilihan Putra Putri Pariwisata 2025

    Wamena – Bupati Jayawijaya Atenius Murip, S.H.,M.H secara resmi membuka Pemilihan Putra-Putri Pariwisata tingkat SMA/SMK, dan perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya bertempat di Gedung tongkonan, Rabu (17/09/25).

    Bupati Jayawijaya Atenius Murip, S.H.,M.H dalam wawancaranya menjelaskan bahwa kegiatan pemilihat Putra dan Putri Pariwisata yang sedang berjalan merupakan kegiatan rutin Tahunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk menggali potesi-potensi budaya yang disampaikan melalui putra putri terbaik Jayawijaya.

    Selain itu Bupati Atenius Murip, S.H.,M,M.H juga menegaskan melalui  kegiatan ini para peserta dapat memperkenalkan ciri khas budaya Lokal baik di tingkat Kabupaten, Provinsi, maupun tingkat nasional.

    Bupati Jayawijwaya saat membacakan sambutannya

    Foto : Imanuel Sawaki

    Selanjutnya Bupati juga menjelaskan bahwa sesuai dengan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini para juara pada tahun sebelumnya telah membuktikan diri dengan membawa nama baik Jayawijaya ke tingkat nasional dan berhasil mendapatkan beberapa  tropi terbaik tingkat naisonal.

    lanjut Bupati, dirinya dan Pemerintah berharap potensi-potensi kebudayaan yang ada dapat digali, dan diexplorasi melalui penampilan para peserta yang menggunakan atribut kebudayaan lokal baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, hal ini sejalan dengan  slogan pemerintah yang telah di gaungkan semenjak pagelaran Festival Budaya Lembah baliem , yaitu “dari Jayawijaya untuk Dunia”.

    Bupati Jayawijaya saat berfoto bersama OPD, dan para peserta

    Foto : Imanuel Sawaki

    Bupati juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung  pelaksanaan kegiatan yang bertujuan untuk mengangkat menigkatkan budaya Lokal yang ada. (IS/AW)