Category: Kesehatan

  • Shelter Penanggulangan AIDS KPA Jayawijaya Ditinjau Bupati dan Wakil Jayawijaya

    Shelter Penanggulangan AIDS KPA Jayawijaya Ditinjau Bupati dan Wakil Jayawijaya

    WAMENA – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jayawijaya memastikan telah menyiapkan shelter untuk menampung pasien HIV/AIDS yang kondisinya menurun, untuk nantinya mendapat perawatan dan diajak kembali untuk mengkonsumsi obat ARV agar kembali memiliki harapan untuk hidup lagi dan bisa beraktifitas seperti biasa.

    Penyediaan Shelter tersebut dilihat langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya, saat meninjau kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA Kabupaten Jayawijaya di Jalan Pikhe Wamena sekaligus menyerahkan serahkan dana hibah PMT ke 18 Puskesmas dan LSM.

    Bupati Athenius Murib,SH, MH mengatakan, kunjungan itu dilakukan untuk menghidupkan kembali aktivitas kantor KPU yang telah vakum beberapa waktu lalu dan mendorong berbagai kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di Jayawijaya melalui kepengurusan KPA baru yang diketuai Tonius Wenda bisa berjalan kembali.

    “Tahun ini kami pemerintah mengatur kepengurusan baru dibawa kepemimpinan saudara Tonius Wenda dan kawan – kawan, melibatkan semua LSM, dinas kesehatan, perawat, susteran (biarawati) yang punya kepedulian terhadap masa depan generasi Jayawijaya” ungkapnya Senin (13/7) kemarin.

    Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH dan Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.KP saat meninjau Shelter Penanggulangan AIDS yang sengaja dibangun KPA Jayawijaya dalam memprioritaskan penanganan ODHA. Senin (13/7/2026).

    Foto : Istimewa

    Dikatakan, melalui kepengurusan baru tersebut, mulai menata kembali kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di Jayawijaya sejak 3 bulan lalu. Penanggulangan AIDS harus prioritas meskipun Pemkab Jayawijaya belum melakukan banyak hal tentang penanggulangan AIDS, namun akan tetap memberikan support.

    “Dengan segala keterbatasan yang ada kami mensupport gerakan ini dan teman – teman yang ada di lapangan terus memberikan harapan hidup melalui melalui pengobatan ataupun edukasi, bagaimana pembinaan ataupun konsumsi obat yang membuat mereka (ODHA) bertahan hidup” Katanya.

    Bupati juga memerintahkan ketua KPA dan pengurus untuk segerah bergerak di lapangan untuk melakukan pendataan maupun upaya penanggulangan AIDS di Jayawijaya, sebab, pemerintah menginginkan data yang benar, kalau memang di Jayawijaya ini banyak sekali, ribuan, tidak apa-apa , kita tidak malu – malu umumkan bahwa ini kenyataan yang harus serius di tanggulangi.

    “Angka HIV/AIDS yang tinggi ini bukan menjadi Aib bagi pemerintah daerah, namun bagaimana menunjukan keseriusan dalam menangani masalah ini dan terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhannya,”tegas Bupati Murib

    Ia Juga menyambut baik adanya shelter yang disiapkan oleh KPA Jayawijaya untuk ODHA yang membutuhkan penanganan khusus, baik konsumsi obat, dan juga yang terpenting meningkatkan semangat untuk bisa bertahan hidup sehingga mereka tidak terintimindasi dari berbagai stigma dalam masyarakat.

    Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya didampingi ketua KPA Jayawijaya Tonius Wenda saat berada di halaman Shelter dari KPA Jayawijaya.

    Foto : Istimewa

    Ditempat yang sama Ketua harian KPA Jayawijaya, Tonius Wenda mengatakan, sejak dirinya ditunjuk ketua harian pada april lalu, selama dua bulan ia bersama tim berupaya maksimal dalam membenahi kantor dan penyediaan shelter bagi pasien HIV/ AIDS hingga upaya pendataan kasus HIV maupun kasus Lost to Follow Up (LFU).

    “Satu bulan habis dan sisa satu bulan, Tuhan tolong buat keajaiban, bapak – bapak bisa melihat hari ini kantor ini sudah berubah, itu semua karena Tuhan dan kami bisa jangkau PKM yang begitu jauh sampai di Wolo semua data pasien kami dapat konkrit. Hari ini kedepan Jayawijaya akan seperti apa itu yang kita akan kejar” Kata Wenda.

    Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya saat melakukan foto bersama dengan pengurus KPA Jayawijaya serta 18 perwakilan Puskesmas yang memiliki pelayanan Penanggulangan HIV/AIDS dan VCT.

    Foto : Istimewa

    Ia berharap, kedepan Pemda Jayawijaya serius dalam penanganan kasus HIV/AIDS, sebab di lapangan banyak temuan masalah data ODHA maupun LFU. Katanya satu masalah yang sulit dipecahkan adalah pemetaan pasien dari beberapa Kabupaten yang menumpuk di Jayawijaya.

    “Dan itu kami berharap kepada Dinas nanti ada kerja sama dengan kami untuk memetakan pasien dari kabupaten lain supaya kami punya koordinasi dengan kabupaten tersebut untuk bertanggungjawab kepada warganya” Harap Tonius. (Denny/Martina)

  • TP PKK Jayawijaya dan BGN Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita

    TP PKK Jayawijaya dan BGN Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita

    WAMENA – Tim Penggerak PKK Kabupaten Jayawijaya bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jayawijaya, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya menggelar kegiatan Posyandu rutin bulanan yang dirangkaikan dengan sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita di Posyandu Pelangi Kelurahan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Rabu 1 juli 2026.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan, sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Jayawijaya.

    Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita di Posyandu Pelangi Kelurahan Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

    Foto : Agris

    Ketua TP PKK Kabupaten Jayawijaya Ny. dr. Idawati Waromi Murip, Sp.KJ mengatakan sosialisasi tersebut menjadi langkah awal sebelum pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dilakukan secara lebih luas di seluruh wilayah kabupaten. Program ini nantinya akan dilaksanakan melalui kolaborasi antara TP PKK, Posyandu, kader kesehatan, serta instansi terkait.

    “Hari ini kami memulai dengan sosialisasi agar masyarakat mengetahui lebih awal mengenai Program Makan Bergizi Gratis yang akan diberikan kepada para penerima manfaat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita,” ujarnya.

    Ketua TP PKK Kabupaten Jayawijaya Ny. dr. Idawati Waromi Murip, Sp.KJ saat memantau jalannya posyandu.

    Foto : Agris

    Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal program akan difokuskan pada posyandu binaan TP PKK yang terbagi dalam empat zona pelayanan, yakni Kota Wamena, Muliama, Asolokobal, dan Distrik Kurulu. Pembagian zona tersebut dilakukan untuk mempermudah koordinasi sekaligus memastikan program berjalan secara efektif dan tepat sasaran.

    “Kami berharap seluruh posyandu di Kabupaten Jayawijaya nantinya dapat merasakan manfaat program ini. Untuk tahap awal, kami mulai dari posyandu binaan PKK yang telah dibagi dalam beberapa zona pelayanan,” katanya.

    Menurutnya, pemenuhan gizi sejak dini merupakan faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan yang menjadi masa krusial dalam pencegahan stunting.

    “Dengan pemenuhan gizi yang baik sejak dini, kita berharap dapat mencegah terjadinya stunting dan menciptakan generasi yang sehat, kuat, serta berkualitas di masa depan,” ujarnya.

    Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33. Pada kesempatan itu, Ketua TP PKK Kabupaten Jayawijaya mengajak seluruh keluarga untuk menjadikan kesehatan sebagai fondasi utama dalam membangun keluarga yang sehat, bahagia, dan sejahtera.

    Melalui layanan Posyandu, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dipantau secara berkala sehingga kondisi kesehatan mereka dapat diketahui sejak dini. Catatan kesehatan yang dimiliki setiap anak menjadi indikator penting dalam memastikan tumbuh kembang berjalan optimal.

    “Jika anak-anak sehat, maka keluarga akan sehat dan bahagia. Karena kebahagiaan keluarga berawal dari kesehatan yang dijaga sejak dini,” ungkapnya.

    Sementara itu, Anggota Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Papua pegunungan Melkias Tangkelangan yang menjadi narasumber sosialisasi menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Jayawijaya kini mulai diperluas dengan menyasar kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau yang dikenal sebagai kelompok 3B.

    Menurutnya, selama satu tahun pelaksanaan Program MBG di Kabupaten Jayawijaya, pelayanan masih difokuskan kepada peserta didik. Namun, sejalan dengan visi program untuk meningkatkan kualitas gizi generasi bangsa, pemerintah mulai memperluas cakupan penerima manfaat kepada kelompok 3B.

    “Selama satu tahun ini kami hanya terfokus pada peserta didik. Namun karena visi dan misi Program MBG adalah meningkatkan gizi generasi bangsa, maka sekarang kami mulai bergerak melayani kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa Posyandu Pelangi menjadi lokasi pertama pelaksanaan sosialisasi sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan Program MBG di Kabupaten Jayawijaya. Sosialisasi ini akan terus dilakukan secara bertahap dan masif agar seluruh kelompok sasaran dapat memperoleh manfaat program tersebut.

    Dalam kesempatan itu, Melki juga menyampaikan apresiasi kepada TP PKK Kabupaten Jayawijaya, Dinas Kesehatan, DP3AKB, para kader Posyandu, serta tokoh masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dan mendukung kegiatan ini. Sosialisasi ini dilaksanakan bersama TP PKK, Dinas Kesehatan, DP3AKB, serta tokoh masyarakat yang turut mendukung pelaksanaan Program MBG,” katanya.

    Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan pendataan dan verifikasi calon penerima manfaat, baik untuk kelompok 3B maupun peserta didik. Pendataan tersebut dilakukan untuk memastikan program dapat berjalan secara efisien dan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.

    Anggota SPPI Papua Pegunungan, Melkias Tangkelangan saat memberikan sosialisasi

    Foto : Agris

    “Pendataan ini penting agar Program MBG dapat dilaksanakan secara efisien dan tepat sasaran. Saat ini kami masih melakukan verifikasi data penerima manfaat, baik kelompok 3B maupun peserta didik,” jelasnya.

    Selain memperkenalkan tujuan dan sasaran program, sosialisasi juga membahas mekanisme pelaksanaan MBG, mulai dari proses pengolahan makanan di dapur, distribusi, hingga penyaluran kepada penerima manfaat. Para peserta turut mendapatkan penjelasan mengenai peran kader dan koordinator Posyandu dalam mendukung kelancaran pelaksanaan program di lapangan.

    Melalui sosialisasi tersebut, diharapkan seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama mengenai teknis pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis sehingga program dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan gizi ibu dan anak di Kabupaten Jayawijaya. (Agris/Martina)

  • Kunjungan Tim Kemenkes di RSUD Wamena Diharapkan Mampu Jawab Kebutuhan Faskes

    Kunjungan Tim Kemenkes di RSUD Wamena Diharapkan Mampu Jawab Kebutuhan Faskes

    Wamena – Bupati Jayawijaya Atenius Murip berharap dari kunjungan tim Kementerian Kesehatan RI di RSUD Wamena nantinya dapat ikut menjawab kebutuhan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan di rumah sakit milik pemerintah itu.

    Hal ini disampaikannya usai mendampingi Tim Kemenkes saat meninjau beberapa fasilitas kesehatan di RSUD Wamena, Sabtu (27/6/2026).

    Bupati Jayawijaya Atenius Murip saat mendampingin Tim Kementerian Kesehatan RI di RSUD Wamena, Sabtu (27/6/2026).

    Foto : Vina Rumbewas

    “Di Puskesmas atau RSUD kita di Wamena ada beberapa sarpras yang dilihat, ada yang sangat bagus dan ada yang kurang, bahkan ada yang tidak ada. Sehingga output dari meeting ini akan dimitigasi, dan selanjutkan akan dilengkapi sarana prasarana pendukung pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayawijaya,” ungkap Bupati Jayawijaya kepada media.

    Bupati Jayawijaya Atenius Murip saat mendampingin Tim Kementerian Kesehatan RI saat melihat lokasi pembangunan RSUD tingkat pratama di sekitar area Pasir Putih. Sabtu (27/6/2026).

    Foto : Vina Rumbewas

    Selain meninjau faspras di RSUD Wamena, tim juga meninjau langsung lokasi pembangunan RSUD pratama tingkat provinsi di sekitar area gunung susu dan pasir putih.  

    Rencana pembangunan RSUD tipe-C di Papua Pegunungan sebagai tindak lanjut dari arahan presiden yang mengharuskan pembangunan RSUD tipe-C di seluruh Kabupaten di Papua Pegunungan.

    “Tadi juga kami tinjau lokasi pembangunan RS tingkat pratama tingkat provinsi dan juga kabupaten, melihat kondisi di lapangan. Semoga apa yang dilihat oleh Kementerian Kesehatan hari ini tentang segala kekurangan sarana pra sarana pelayanan kesehatan itu bisa dilengkapi,” tutupnya. (Vina Rumbewas/Martina Matuan)

  • Persingkat Alur Layanan Kesehatan Dinkes Jayawijaya Persiapkan Layanan ILP di Dua Puskesmas

    Persingkat Alur Layanan Kesehatan Dinkes Jayawijaya Persiapkan Layanan ILP di Dua Puskesmas

    WAMENA – Guna mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya menggelar sosialisasi Integrasi Layanan Primer (ILP), dimana program ini menindak lanjuti keputusan dari mentri kesehatan karena sudah mulai di berlakukan sejak tahun 2022 di seluruh Indonesia.

    Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya Rudi Aibesa, S.KM menyatakan khusus untuk Papua Pegunungan khususnya, ditahun ini baru Kabupaten Jayawijaya yang melaksanakan program ILP dan hanya dua puskesmas yakni Wamena Kota dan Ilekma yang diambil sebagai model untuk 37 puskesmas yang akan menjalankan program ini kembali.

    “Kegiatan intinya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan mempermudah akses layanan itu kepada masyarakat, terutama di layanan dasar, dari yang dulunya hanya berlaku untuk layanan Bumil, bayi dan balita, tapi ILP ini dilakukan untuk seluruh nya atau umum.”ungkapnya Kamis (11/6) di Hotel Baliem Pilamo Wamena.

    Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya saat memberikan sosialisasi Integrasi Layanan Primer (ILP) kepada Nakes dari Puskesmas Wamena Kota dan Ilekma di hotel Baliem Pilamo Wamena. Kamis (11/6). Foto : Istimewa

    Menurutnya, ILP ini dilakukan untuk melakukan pendeteksian dini untuk penyakit yang dialami ditingkat puskesmas, sehingga masyarakat bisa mendapatkan pelayanan ini lebih dekat tak jauh dari tempat layanan yang seperti mereka dapatkan sebelumnya.

    “Untuk tenaga nanti kita akan berdayakan masyarakat terutama kader Posyandu dengan standar 5 orang, namun karena keterbatasan anggaran yang disediakan hanya 2 orang, oleh karena itu, diharapkan kepada pemerintah untuk bisa menambah tenaga sehingga bisa mencapai sasaran atau target dari ILP,”jelasnya

    Dikatakan, memang saat ini untuk tenaga kesehatan yang dimiliki Dinkes Jayawijaya terbatas, namun pihaknya masih terus untuk melengkapi tenaga yang ada di sektor puskesmas sehingga mereka juga bisa ada di layanan posyandu.

    Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya Rudi Aibesa, S.KM. Foto : Deny

    Ditempat yang sama Plt Kasie Kasda dan Gizi dari Bagian Kesmas Dinkes Jayawijaya Sulastri Fajarwati menjelasnkan jika ILP ini bertujuan untuk memersingkat layanan gambaran umumnya kalau berobat di puskesmas sering kali ada antrian di loket untuk mendaftar namun kali ini tidak seperti itu lagi.

    “Kita coba untuk mempersingkat alur layanan yang tadinya pendaftaran harus di gabung, kini kita pisahkan lewat 5 klaster, sehingga kalau ada ibu hamil yang memeriksakan kandungannya tak perlu lagi untuk mengantri bersama lansia tapi mungkin mendaftar di klaster II untuk Ibu hamil, Bayi dan Balita, sedangkan klaster III untuk usia dewasa dan lansia,”bebernya.

    Ia juga mengaku jika ILP ini untuk mempersingkat alur agar tidak banyak pasien lagi dalam satu loket pendaftaran, kalau sekarang ini masih satu pintu, misalnya kalau dipanggil di polik umum disitu masu semua untuk Dewasa, Lansia, bumil, tapi kalau ada ILP nantinya akan membangi layanan klaster.

    “Begitu juga pasien yang gawat darurat juga akan dibedakan lagi atau mungkin akan masuk ke klaster V, sehingga tidak penuh lagi dalam puskesmas, untuk pemberlakukan ILP masih dalam persiapan, dan masih perlu SK untuk lokusnya, Puskesmas percontohan dan juga SK dari Bupati,”ujar Sulastri.

    Ia menambahkan untuk SK Bupati saat ini Dinkes masih melakukan koordinasi dengan bagian Hukum Setda Kabupaten Jayawijaya, selanjutnya Dinkes juga akan dikunjungki tim dari kemenkes dan Global Fun untuk meninjau dua pustu di Honelama dan Napua.

    Plt Kasie Kasda dan Gizi dari Bagian Kesmas Dinkes Jayawijaya Sulastri Fajarwati. Foto : Deny

    “Kami juga akan melakukan pelatihan kepada nakes dari 20 puskesmas yang bertujuan agar mereka paham apa yang harus mereka jalankan di Puskesmas ILP dan Posyandu ILP, karena setelah puskesmas jalan maka posyandu juga akan diberlakukan sama dengan puskesmas tersebut,” bebernya

    Artinya nanti dalam Posyandu itu akan dibagi 5 meja dan yang tadinya hanya satu kader akan dikelola oleh 5 kader, rencananya setelah orientasi nakes sudah selesai dan SK Lokus, SK Puskesmas dan SK Bupati juga sudah ada, maka akan dilauncing untuk dimulai program ILP yang diperkirakan pada bulan juli mendatang untuk Puskesmas Wamena Kota dan Ilekma. (Denny/Martina)

  • Video Viral mengkritik kinerja pelayanan PKM Wamena Kota, ini tanggapan Pemkab Jayawijaya

    Video Viral mengkritik kinerja pelayanan PKM Wamena Kota, ini tanggapan Pemkab Jayawijaya

    Wamena – Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya melalui Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere meninjau langsung proses pelayanan di Puskesmas Wamena Kota, Rabu 8 April 2025.

    Hal ini dilakukan untuk meminta konfirmasi dari Puskesmas Wamena Kota terkait video kritikan yang dilakukan salah satu pemilik akun tiktok yang mengkritik kinerja Pelayanan Puskesmas Wamena Kota.

    Dalam video tersebut, akun tersebut mengkritik kinerja pelayanan PKM Wamena Kota dengan kata-kata yang kasar dan tidak beretika.

    Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP., M.KP saat meninjau pelayanan di Puskesmas Wamena Kota

    Foto : Agris Wistrijaya

    Wabup Ronny Elopere saat ditemui mengatakan bahwa ia berterimakasih atas kritikan yang diberikan kepada Pemerintah, tetapi ia berharap kritikan yang membangun dan bermartabat.

    “Kami meminta agar kritik disampaikan secara rasional dan tidak emosional, serta menghindari kata-kata yang menghina atau cacimaki, karena hal tersebut bisa berimplikasi hukum,” ucapnya.

    Ia mengatakan bahwa Pemerintah Daerah  akan menata diri ke depan dan melakukan pembenahan jika terjadi kesalahan atau pelanggaran SOP.

    “Kami sudah konfirmasi ke Puskesmas Wamena Kota, Pelayanan di Puskesmas Wamena Kota sudah sesuai dengan SOP, tetap ada antrian, tetapi ada Prioritas pasien gawat darurat yang diutamakan, Petugas medis mendahulukan pasien yang sangat mendesak atau memerlukan penanganan serius,” ucapnya.

    Ia juga menyambut baik kritik yang membangun sebagai sarana perbaikan, tetapi disisi lain, harus menekankan pentingnya cara penyampaian kritik yang sopan, bermartabat dan sesuai hukum.

    Ia juga berharap agar RSUD maupun seluruh puskesmas di Kabupaten Jayawijaya dapat mengikuti SOP dan jam pelayanan, agar pelayanan maksimal dan tidak terburu-buru, sehingga tidak menimbulkan kritik negatif dari masyarakat.

    Wabup juga berpesan kepada seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Jayawijaya untuk tetap mematuhi SOP serta jam pelayanan demi memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

    Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.KP bersama Plt Kepala  Puskesmas Wamena kota  dr. samuel toding saat memberikan klarifikasi

    Foto : Agris Wistrijaya

    Sementara menurut, Plt. Kepala Puskesmas dr. Samuel Toding mengatakan bahwa kemungkinan video tersebut di ambil pada hari selasa, 7 April 2026, karena memang pengunjung pada hari itu lumayan banyak sekitar 266 orang.

    “Video tersebut kemungkinan diambil kemarin, memang saat itu banyak pengunjung yang datang sekitar 266 orang baik pasien umum, ibu hamil, anak, pasien VCT dan TB,” ucapnya.

    Menurutnya, sesuai dengan SOP dan berdasarkan banyaknya pengunjung tentunya mereka terlebih dahulu melakukan screening sebelum di periksa lebih lanjut.

    “Dari video tersebut, narasinya membutuhkan pelayanan yang cepat, jadi daftar langsung ketemu dokter, itukan tidak bisa karena kita kerja di Pelayanan Publik,” ungkapnya.

    Ia juga mengatakan bahwa jadwal pelayanan di Puskesmas Wamena Kota untuk pendaftaran mulai dari pukul 08.00 hingga jam 11.00, dan seterusnya tetap menyelesaikan seluruh pasien hingga selesai. (Agris Wistrijaya/ Martina Matuan)

  • BGN Papua Pegunungan Gelar Pelatihan Keamanan Pangan Bagi SPPG di Jayawijaya dan Yahukimo

    BGN Papua Pegunungan Gelar Pelatihan Keamanan Pangan Bagi SPPG di Jayawijaya dan Yahukimo

    WAMENA – Badan Gizi Nasional Wilayah Papua Pegunungan gelar Pelatihan Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jayawijaya dan Yahukimo. Pelatihan berlangsung selama sehari di Aula Basda Wamena, Senin (16/03/2026).

    Badan Gizi Nasional Wilayah Papua Pegunungan gelar Pelatihan Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jayawijaya dan Yahukimo. Pelatihan berlangsung selama sehari di Aula Basda Wamena, Senin (16/03/2026).

    Foto : Vina Rumbewas

    Ketua Kelompok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional Wilayah Papua Pegunungan, Wahyu Adi Pratama, mengungkapkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk pencapaian sertifikasi halal pada SPPG-SPPG yang ada.

    “Kita wajibkan untuk seluruh dapur kedepannya melakukan pelatihan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan untuk sertifikasi halal juga. Kegiatan ini dilaksanakan oleh BGN yang bekerjasama dengan dinas terkait, untuk nantinya mendapatkan sertifikasi tersebut,” ungkapnya kepada wartawan.

    Lanjutnya, saat ini BGN berfokus pada relawan-relawan pada dapur-dapur yang sedang berjalan, dan dua dapur baru yang sementara dalam proses pembangunan. Sehingga diharapkan nantinya saat pelaksanaan para relawan telah memahami bagaimana menjaga higenitas.

    Dikesempatan itu, Wahyu juga membeberkan bahwa kedepan akan ada lebih dari sembilan puluhan dapur di Jayawijaya.

    “Jayawijaya kedepan akan lebih dari 90an dapur, kalau saat ini yang sedang berproses sekitar 11 dapur,” ungkapnya.

    Dikesempatan yang sama, perwakilan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Papua Pegunungan, Nurul Yakim, menyatakan bahwa dalam penilaian pelayanan disetiap SPPG pihaknya memastikan yang pertama yakni bahan-bahan yang digunakan layak, tidak hanya bergizi tapi juga halal.

    “Jadi mulai dari daging, sayuran, semua dicuci dengan bersih, dan saya pribadi sudah melihat bahwa dapur yang ada di Jayawijaya semua bagus, artinya higenisnya dijaga, halalnya juga dicek bagus. Kalau disyahriat islam halal menjadi prioritas,” ungkapnya.

    BPJPH sendiri sangat mendukung kegiatan pelatihan ini dan mendorong masyarakat untuk bagaimana menjadikan kehidupan yang bersih bagian dari kehidupan sehari-hari.

    “Jadi nanti ada sertifikasi halal juga, dan ini sertifikasi SLAS penjamah makanan. Jadi nanti kita akan keluarkan juga sertifikasi setelah melalui proses prosedur yang ada,” jelasnya.

    Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya, Esau Rudianto Aibesa, meminta pihak BGN wilayah Papua Pegunungan untuk selalu berkoordinasi dengan pihaknya terkait pelaksanaan MBG, mengingat pihaknya yang akan mengeluarkan ijin dalam pelaksanaan MBG, terutama yang berkaitan dengan sanitasi dan higenis, baik dari pengelola atau dapur itu sendiri dan penjamah. Artinya mulai dari tempat pengolahan makanan hingga petugas yang mengelola makanan.

    “Diharapkan agar makanan itu tetap bersih dan bahan yang dipakai juga harus segar. Kita tahu daerah kita ini bahan pangan semuanya tidak menggunakan pupuk. Sehingga diharapkan bisa dikelola dengan baik, agar tidak terjadi masalah atau komplain dari masyarakan,” ungkapnya usai membuka kegiatan.

    Dirinya berharap, semua peserta yang mengikuti pelatihan ini nantinya diberikan sertifikat, sehingga dapat digunakan juga untuk mengelolah atau mengembangkan UMKM di Wamena, baik kelompok maupun pribadi.

    “Dengan adanya sertifikat, mereka bisa membuka usaha mereka sendiri, berskala industri rumah tangga, dan bisa menciptakan lapangan,” harapnya. (Vina Rumbewas/ Martina Matuan)

  • TP Posyandu Gandeng OPD Terkait Dalam Merealisasikan Enam Bidang SPM Posyandu

    TP Posyandu Gandeng OPD Terkait Dalam Merealisasikan Enam Bidang SPM Posyandu

    WAMENA – Ketua Tim Pembina Posyandu yang juga merupakan Ketua TP PKK Kabupaten Jayawijaya, Ny. dr. Idawati Waromi Murip, Sp.KJ, memastikan timnya akan menggandeng OPD-OPD terkait dalam merealisasikan Enam Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu di Jayawijaya.

    Hal ini disampaikannya kepada wartawan usai pelaksanaan sosialisasi Enam Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu dan Rancangan Kegiatan TP Posyandu, yang berlangsung di ruang rapat bupati, Senin (20/10/2025).

    Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Jayawijaya, Ny. dr. Idawati Waromi Murip, Sp.KJ bersama anggota saat memberikan keterangan usai pelaksanaan sosialisasi

    Foto : Vina Rumbewas

    “Tujuan dari sosialisasi kami hari ini adalah untuk melihat program kerja posyandu dengan melibatkan OPD-OPD. Jadi OPD akan melihat langsung apa saja kebutuhan di lapangan,” ungkapnya.

    Menurutnya, selama ini kegiatan posyandu dianggap hanya menjadi tugas Dinas Kesehatan dan Puskesmas, pada hal didalamnya ada OPD-OPD terkait yang akan mengambil bagian.

    “Jadi di sini kami berkolaborasi, misalkan Dinas Pendidikan nanti akan berhubungan langsung dengan PAUD yang ada di posyandu tersebut. Begitu juga dengan Dinas Perumahan akan melihat kebersihan seperti MCK, air bersih dan juga sanitasi dan sarpras lainnya,” jelasnya.

    OPD-OPD yang akan terlibat langsung dalam pelaksanaan program posyandu pada empat zona di Jayawijaya yakni Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, DPMK, Dinas Perumahan dan Pemukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Satpol PP, dan Dinas Pendidikan.

    Posyandu sendiri juga termasuk dalam salah satu program prioritas PKK bahkan ditangani langsung dalam sebuah pokja, untuk itu kata ketua PKK bahwa PKK dan posyandu akan berjalan bersama dengan OPD-OPD terkait.

    “Tadi kami sudah sepakati bersama dalam sosialisasi ini ada 4 zona dan ada 6 lokus dan juga ada 6 posyandu binaan di Jayawijaya yang difokuskan untuk menjadi pilot project di kabupaten Jayawijaya dan juga di provinsi Papua Pegunungan kedepan nanti,” beber ketua PKK Jayawijaya.

    Untuk melihat langsung kebutuhan disetiap posyandu maka mulai pekan depan PKK bersama TP posyandu dan OPD terkait akan terjun langsung untuk melihat pelayanan dan kebutuhan di posyandu-posyandu yang ada di Jayawijaya, yang tentunya disesuaikan dengan jadwal posyandu di masing-masing lokus, dan di minggu berjalan ini akan dimulai dari Posyandu Welesi.

     “Jadi kami sebagai PKK maupun posyandu kami menjembatani semua OPD-OPD ini untuk melihat kebutuhan masyarakat di posyandu yang kami bina. Sehingga apa yang dibutuhkan akan dilaksanakan bersama. Jadi di sini kami berkolaborasi,” tuturnya.

    Enam lokus posyandu binaan terdapat di zona 1 yakni Posyandu Pelangi di Wamena Kota, zona 2 Asolokobal, dan zona 3 di Welesi. Secara keseluruhan terdapat 233 posyandu yang telah berjalan dan tersebar di 40 distrik di Jayawijaya. (VIN/AW)

  • Penerapan dua shift dilakukan RSUD Wamena untuk keamanan Nakes

    Penerapan dua shift dilakukan RSUD Wamena untuk keamanan Nakes

    Wamena – RSUD Wamena menerapkan dua shift atau pembagian jam kerja bagi tenaga kesehatan (nakes) untuk memberikan rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan tugas sebagai Tenaga Kesehatan, mengingat situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kurang kondusif akhir-akhir ini.

    Direktur RSUD Wamena dr. Charles C. Ratulangi, SP.Og saat memanggapi perubahan jam kerja RSUD wamena

    Foto : Istimewa

    Hal ini dikatakan oleh Direktur RSUD Wamena dr. Charles C. Ratulangi, SP.Og, Ia mengatakan penerapan waktu pekerjaan atau jaga nakes tiga shift menjadi dua shift dilakukan sementara waktu sambil melihat situasi kamtibmas kembali kondusif.

    “untuk saat ini kami memang menerapkan dua shift, tapi itu hanya sementara karena operan shift jaga sore ke dinas malam itu biasa dilakukan jam 9 malam dan itu sangat berbahaya bagi nakes,” pungkasnya.

    Direktur RSUD juga menjelaskan bahwa  jam kerja normal nakes di RSUD Wamena  ada tiga di antaranya shift pagi 08.00-14.00 WIT, shift sore 14.00-21.00 WIT, shift malam 21.00-08.00 WIT.  dan untuk Saat ini perubahan jam jaga yakni shift pagi 08.00-17.00 WIT, shift sore 17.00-08.00 WIT.

    “Kebijakan ini diambil untuk menghindari tindak kriminalitas yang sewaktu-waktu bisa terjadi kepada nakes di RSUD Wamena, khususnya pada nakes yang operan shift malam” Ungkapnya.

    Tetapi menurutnya, Pihak RSUD akan melihat kembali ketika situasi kamtibmas sudah benar-benar aman, maka shift akan kembali seperti biasa.

    “Penerapan dua shift jaga bagi nakes di RSUD Wamena sebenarnya baru diterapkan pada 10 Juni 2025, perubahan ini sebenarnya untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada nakes itu sendiri, sehingga perubahan ini tidak menjadi hambatan bagi staf kami,” ucapnya.

    Selain itu, menurutnya rasa aman dan nyaman bagi nakes dalam melaksanakan tugas itu adalah hal utama sehingga pelayanan kepada setiap pasien di RSUD Wamena pun dapat maksimal. (AgW/AW)

  • Tahun 2030 Dinkes tergetkan Kabupaten Jayawijaya terbebas dari HIV AIDS

    Tahun 2030 Dinkes tergetkan Kabupaten Jayawijaya terbebas dari HIV AIDS

    Dinas Kesehatan menargetkan di tahun 2030 di Kabupaten Jayawijaya terbebas dari Human Immunodeficiency Virus Acquired Immunodeficiency Syndrome atau HIV AIDS. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Jayawijaya Theresia F. Resubun saat dihubungi pada hari minggu 15 juni mengatakan pihaknya saat ini memperdalam pengetahuan terbaru tentang penanganan HIV AIDS kepada tenaga Kesehatan atau nakes.

    Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya Theresia F. Resubun saat diwawancara

    Foto : Istimewa

    “Beberapa Waktu lalu kami telah menggelar kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pemahaman nakes terhadap penanganan HIV AIDS,” Ucapnya.

    Kabid P2P tersebut mengatakan bahwa pelatihan selain untuk memperkuat kapasitas pemahaman nakes, juga sebagai agen penyalur informasi kepada masyarakat untuk sedini mungkin menghindari bahaya-bahaya yang dapat terinveksi HIV AIDS.

    “Melalui kegiatan yang dilaksanakan tersebut kami harap nakes dapat membagikan informasi kesehatan ini kepada masyarakat agar mereka terhindar dari bahaya HIV AIDS,” ucapnya.

    Menurutnya penyakit HIV AIDS proses terinveksinya itu sebenarnya dari perilaku yang kurang sehat dan secara rasional ketika pola pikir itu baik atau positif maka perilaku itu akan baik dengan sendirinya.

    “Jadi jika masyarakat mau terhindar dari HIV AIDS maka dijaga perilakunya, karenan untuk saat ini penyebaran HIV AIDS di Kabupaten Jayawijaya tidak ada kenaikan yang signifikan (data HIV AIDS 2024  sebanyak 5.730 kasus), ” Bebernya.

    Selain itu, Ibu Theresia Resubun juga menegaskan bahwa hal tersebut menandakan bahwa pemahaman dan perilaku masyarakat di Kabupaten Jayawijaya semakin baik karena dengan tidak adanya kenaikan yang signifikan.

    “Selaras dengan program nasional, provinsi dan kabupaten, kami berharap tahun 2030 akan Kabupaten Jayawijaya benar-benar terbebas dari HIV atau end the AIDS di Indonesia,” katanya.

    Menurutnya untuk menuju ke end the AIDS 2030 pihaknya tidak bisa bekerja sendiri harus melibatkan lintas sektor dan khususnya dukungan masyarakat.

    “Untuk mengatasi HIV AIDS ini  kita tidak bisa bekerja sendiri, harus bermitra dan bekerja keras dengan semua komponen masyarakat, terutama antara pemerintah dan masyarakat harus sehati dalam mengatasi permasalahan kesehatan ini, “pungkasnya. (AgW/MM)

  • Di Honai Gizi, Ketua PKK Jayawijaya Ajak Manfaatkan Pangan Lokal

    Di Honai Gizi, Ketua PKK Jayawijaya Ajak Manfaatkan Pangan Lokal

    WAMENA – Pj Ketua TP PKK Jayawijaya, Ny. Meyti Mayor menekankan kepada para ketua PKK tingkat distrik dan kampung untuk memanfaatkan hasil alam berupa pangan lokal di daerah masih-masing dalam memanuhi asupan gizi baik para balita di wilayah kerja masing-masing.

    Hal ini disampaikannya disela-sela monitoring program Honai Gizi yang dilakukan TP PKK Jayawijaya di halaman kantor Distrik Wamena Kota, Jumat (24 /02/2025).

    Pemberian makanan Sehat dan Bergizi bagi bayi dan balita di Honai Gizi

    Foto : Vina Rumbewas

    “Makanan sehat bukan saja nasi dan ikan, tapi ada juga hipere, keladi, dan bahan-bahan makanan lokal yang ada di daerah kita masing-masing, itu lebih sehat seperti ubi-ubian dan sayur-sayuran,” ungkapnya.

    Menurutnya, sajian makanan sehat dan bergizi yang disajikan para ibu harus variatif setiap hari.

    “Jadi menunya diganti-ganti jangan itu-itu saja, ibu-ibu juga sudah paham mana makanan bergizi dan tidak,” katanya.

    Selain variatif, menu yang disajikan melalui Honai Gizi juga harus bersih dan sehat.

    “Makanan-makanan yang disajikan kepada anak-anak harus lewat honai yang bersih, artinya dimasak yang bersih dulu baru disajikan kepada anak-anak supaya mereka makan dan sehat,” jelasnya.

    Dalam pemberian makanan sehat kepada anak-anak Ny. Meyti mengingatkan kepada para anggota PKK tingkat distrik untuk wajib berkoordinasi dengan puskesmas setempat sehingga target pemberian makanan bergizi dan sehat bagi anak-anak stunting dapat tercapai.

    Monitoring Honai Gizi yang dipusatkan di kantor Distrik Wamena Kota merupakan gabungan dari beberapa distrik yakni Distrik Asolokobal, Trikora, Napua, Wouma, Hubikiak, Itlay Hisage, Siepkosi, Pisugi, Walesi, Asotipo, Maima, Popukoiba, Wesaput, dan Distrik Walelagama.

    Kegiatan dihadiri langsung oleh Pj. Bupati Jayawijaya, Bappeda, Dinas Kesehatan, BP2AKB, para Kepala Distrik dan anggota PKK, serta tenaga medis dari Puskesmas Wamena Kota.

    Dua hari sebelumnya monitoring Honai Gizi juga telah dilakukan di Distrik Asologaima dan Distrik Kurulu yang merupakan gabungan dari beberapa Distrik di wilayah tersebut. (VIN/MM)